-->
  • Jelajahi

    Copyright © Sukapurwa News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Blogger Templates

    Iklan

    SEKUM GARUDA SATU KOMANDO FEDERASI BERSUARA : PARADE PENCAK SILAT BUKAN SEKADAR PERTUNJUKAN, TETAPI BENTUK NYATA PELESTARIAN BUDAYA NUSANTARA

    12 Oktober 2026, Oktober 12, 2026 WIB Last Updated 2026-10-12T07:50:12Z



     

















    Sukapurwanews.com - RANGKASBITUNG, LEBAK — Parade Pencak Silat yang digelar pada Minggu, 11 Oktober 2026, di Alun-Alun Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, menjadi momentum penting dalam mempererat tali silaturahmi antarpadepokan sekaligus menghidupkan kembali semangat pelestarian seni bela diri tradisional warisan leluhur.


    Kegiatan yang melibatkan para pendekar dan pelaku seni bela diri tradisional tersebut menjadi ruang kebersamaan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya Banten, khususnya pencak silat dan seni Debus yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Banten.


    Sekretaris Umum (Sekum) Garuda Satu Komando Federasi, Kang Sa'id, menyampaikan bahwa Parade Pencak Silat tidak boleh dipandang hanya sebagai kegiatan seremonial atau pertunjukan semata. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bentuk komitmen bersama untuk menjaga, merawat, dan mewariskan budaya kepada generasi penerus.


    Menurutnya, pencak silat bukan sekadar kemampuan bela diri, melainkan juga mengandung nilai kedisiplinan, persaudaraan, penghormatan kepada sesama, serta tanggung jawab dalam menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat.


    "Parade Pencak Silat ini bukan hanya tentang siapa yang paling hebat dalam memperagakan jurus. Lebih dari itu, ini adalah tentang persaudaraan, kebersamaan, dan tanggung jawab kita sebagai generasi penerus untuk menjaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman," demikian pesan Kang Sa'id.


    Ia juga menegaskan bahwa keberadaan padepokan-padepokan pencak silat memiliki peran penting dalam membina generasi muda agar tidak hanya menguasai ilmu bela diri, tetapi juga memahami etika, tata krama, dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.


    PENCAK SILAT HARUS TETAP HIDUP DI TENGAH PERKEMBANGAN ZAMAN


    Kang Sa'id berharap kegiatan serupa tidak berhenti pada satu momentum saja. Menurutnya, pelestarian budaya membutuhkan kerja sama berkelanjutan antara para pendekar, padepokan, organisasi kemasyarakatan, pemerintah daerah, serta seluruh elemen masyarakat.


    Ia mendorong agar Parade Pencak Silat dapat menjadi agenda kebudayaan yang terus dikembangkan sebagai sarana memperkenalkan seni tradisional Banten kepada generasi muda maupun masyarakat luas.


    "Jangan sampai kita hanya bangga menyebut pencak silat sebagai warisan leluhur, tetapi tidak memiliki kepedulian untuk merawat dan melestarikannya. Budaya ini harus terus hidup, dipelajari, dan diwariskan. Para pendekar harus menjadi teladan dalam menjaga persatuan, bukan justru terpecah karena perbedaan," tegasnya.


    Lebih lanjut, ia mengajak seluruh insan persilatan untuk menjaga marwah pencak silat dengan menjunjung tinggi sportivitas, mengedepankan persaudaraan, serta menghindari tindakan yang dapat mencoreng nama baik dunia persilatan.


    MOMENTUM MEMPERKUAT PERSATUAN PARA PENDEKAR


    Pelaksanaan Parade Pencak Silat di Alun-Alun Rangkasbitung diharapkan menjadi pengingat bahwa kekuatan budaya tidak hanya terletak pada pertunjukan yang meriah, tetapi juga pada nilai-nilai luhur yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


    Bagi Kang Sa'id, persatuan para pendekar merupakan modal penting untuk menjaga eksistensi budaya Banten sekaligus memberikan contoh positif kepada masyarakat bahwa perbedaan perguruan dan padepokan bukanlah penghalang untuk membangun kebersamaan.


    Ia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam kegiatan tersebut, khususnya para pendekar, pimpinan padepokan, panitia, dan masyarakat yang turut mendukung pelestarian seni bela diri tradisional.


    "Semoga silaturahmi ini terus terjaga. Kita boleh berbeda padepokan, berbeda aliran, dan berbeda organisasi, tetapi kita memiliki tanggung jawab yang sama, yaitu menjaga persaudaraan dan melestarikan budaya Banten. Satu tekad, satu jiwa, satu komando dalam semangat kebersamaan," pungkas Kang Sa'id.

    SEKUM GARUDA SATU KOMANDO FEDERASI BERSUARA : PARADE PENCAK SILAT BUKAN SEKADAR PERTUNJUKAN, TETAPI BENTUK NYATA PELESTARIAN BUDAYA BANTEN


    RANGKASBITUNG, LEBAK — Parade Pencak Silat yang digelar pada Minggu, 11 Oktober 2026, di Alun-Alun Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, menjadi momentum penting dalam mempererat tali silaturahmi antarpadepokan sekaligus menghidupkan kembali semangat pelestarian seni bela diri tradisional warisan leluhur.


    Kegiatan yang melibatkan para pendekar dan pelaku seni bela diri tradisional tersebut menjadi ruang kebersamaan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya Banten, khususnya pencak silat dan seni Debus yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Banten.


    Sekretaris Umum (Sekum) Garuda Satu Komando Federasi, Kang Sa'id, menyampaikan bahwa Parade Pencak Silat tidak boleh dipandang hanya sebagai kegiatan seremonial atau pertunjukan semata. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bentuk komitmen bersama untuk menjaga, merawat, dan mewariskan budaya kepada generasi penerus.


    Menurutnya, pencak silat bukan sekadar kemampuan bela diri, melainkan juga mengandung nilai kedisiplinan, persaudaraan, penghormatan kepada sesama, serta tanggung jawab dalam menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat.


    "Parade Pencak Silat ini bukan hanya tentang siapa yang paling hebat dalam memperagakan jurus. Lebih dari itu, ini adalah tentang persaudaraan, kebersamaan, dan tanggung jawab kita sebagai generasi penerus untuk menjaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman," demikian pesan Kang Sa'id.


    Ia juga menegaskan bahwa keberadaan padepokan-padepokan pencak silat memiliki peran penting dalam membina generasi muda agar tidak hanya menguasai ilmu bela diri, tetapi juga memahami etika, tata krama, dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.


    PENCAK SILAT HARUS TETAP HIDUP DI TENGAH PERKEMBANGAN ZAMAN


    Kang Sa'id berharap kegiatan serupa tidak berhenti pada satu momentum saja. Menurutnya, pelestarian budaya membutuhkan kerja sama berkelanjutan antara para pendekar, padepokan, organisasi kemasyarakatan, pemerintah daerah, serta seluruh elemen masyarakat.


    Ia mendorong agar Parade Pencak Silat dapat menjadi agenda kebudayaan yang terus dikembangkan sebagai sarana memperkenalkan seni tradisional Banten kepada generasi muda maupun masyarakat luas.


    "Jangan sampai kita hanya bangga menyebut pencak silat sebagai warisan leluhur, tetapi tidak memiliki kepedulian untuk merawat dan melestarikannya. Budaya ini harus terus hidup, dipelajari, dan diwariskan. Para pendekar harus menjadi teladan dalam menjaga persatuan, bukan justru terpecah karena perbedaan," tegasnya.


    Lebih lanjut, ia mengajak seluruh insan persilatan untuk menjaga marwah pencak silat dengan menjunjung tinggi sportivitas, mengedepankan persaudaraan, serta menghindari tindakan yang dapat mencoreng nama baik dunia persilatan.


    MOMENTUM MEMPERKUAT PERSATUAN PARA PENDEKAR


    Pelaksanaan Parade Pencak Silat di Alun-Alun Rangkasbitung diharapkan menjadi pengingat bahwa kekuatan budaya tidak hanya terletak pada pertunjukan yang meriah, tetapi juga pada nilai-nilai luhur yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


    Bagi Kang Sa'id, persatuan para pendekar merupakan modal penting untuk menjaga eksistensi budaya Banten sekaligus memberikan contoh positif kepada masyarakat bahwa perbedaan perguruan dan padepokan bukanlah penghalang untuk membangun kebersamaan.


    Ia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam kegiatan tersebut, khususnya para pendekar, pimpinan padepokan, panitia, dan masyarakat yang turut mendukung pelestarian seni bela diri tradisional.


    "Semoga silaturahmi ini terus terjaga. Kita boleh berbeda padepokan, berbeda aliran, dan berbeda organisasi, tetapi kita memiliki tanggung jawab yang sama, yaitu menjaga persaudaraan dan melestarikan budaya Banten. Satu tekad, satu jiwa, satu komando dalam semangat kebersamaan," pungkas Kang Sa'id.


    Salam budaya, salam persaudaraan.


    Kang Sa'id

    Sekretaris Umum (Sekum) Garuda Satu Komando Federasi

    Pelestari Budaya Banten

    Salam budaya, salam persaudaraan.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    NamaLabel

    +