Nomor: 197/HMS.00/VII/2026
Sukapurwanews.com - Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (Menko AHY) menegaskan hasil riset Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 tidak boleh berhenti sebagai laporan akademik. Temuan yang dihasilkan para peserta harus mampu diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan yang dapat segera ditindaklanjuti pemerintah untuk mempercepat pembangunan kawasan transmigrasi.
Penegasan tersebut disampaikan Menko AHY saat menjawab pertanyaan peserta dalam sesi dialog pada acara Pelepasan Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (29/7).
"Saya berharap nanti sekembali dari riset lapangan tersebut, output-nya bisa dilaporkan secara tertulis atau formal, dipelajari, dianalisa oleh Kementerian Transmigrasi. Kami juga tentu akan membaca itu, dan sebisa mungkin akan kita sampaikan ke semua kementerian atau lembaga yang terkait. Jika memungkinkan, bisa segera diambil langkah-langkah atau policy. Maka itu bisa segera ditindaklanjuti, ada quick wins," ujar Menko AHY.
Menko AHY mengatakan pemerintah membuka ruang agar setiap rekomendasi yang lahir dari penelitian lapangan dipelajari oleh Kementerian Transmigrasi dan kementerian/lembaga terkait. Menurutnya, rekomendasi yang disusun berdasarkan data dan fakta lapangan memiliki nilai strategis dalam menghasilkan kebijakan yang tepat sasaran.
Ia menambahkan, tidak semua rekomendasi dapat langsung diwujudkan karena sebagian membutuhkan kajian lanjutan. Namun, seluruh masukan yang berbasis sains dan bukti lapangan akan menjadi bahan penting dalam penyusunan kebijakan pemerintah.
"Tetapi semua masukan, feedback dari lapangan sangat berharga, apalagi kalau dilakukan berdasarkan science dan juga evidence yang didapatkan dari lapangan," katanya.
Pernyataan tersebut merupakan jawaban atas pertanyaan peserta Tim Ekspedisi Patriot asal Universitas Hasanuddin, Nurvidya Ramadhani, yang bertanya sejauh mana hasil penelitian peserta akan diimplementasikan dalam kebijakan pemerintah.
Dalam kesempatan itu, Nurvidya mengungkapkan selama ini dirinya mempelajari persoalan kemiskinan hanya melalui teori di ruang kuliah. Sehingga program Tim Ekspedisi Patriot ini menurutnya menjadi kesempatan untuk memahami langsung kondisi masyarakat sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan.
"Dengan adanya Tim Ekspedisi Patriot ini, membuka mata saya bahwa ini adalah kesempatan besar bagi saya untuk bisa berkontribusi besar untuk Indonesia. Yang saya mau pertanyakan, ketika hasil dari riset kami menghasilkan output, sejauh mana hasil dari ini bisa diimplementasikan dalam kebijakan?" kata Nurvidya.
Menanggapi hal tersebut, Menko AHY mengapresiasi semangat para peserta yang memilih turun langsung ke lapangan untuk memahami persoalan pembangunan. Menurutnya, pengalaman empiris menjadi bekal penting untuk menghasilkan rekomendasi yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat.
"Sering kali kita membahas kemiskinan hanya dalam ruang kelas. Untuk melihat kondisi yang paling riil, yang paling nyata, kita harus turun ke lapangan. Itulah mengapa keputusan teman-teman bergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot memberikan kesempatan yang sangat baik untuk memiliki pengalaman langsung di tengah masyarakat," ujar Menko AHY.
Melalui pendekatan tersebut, Menko AHY berharap Tim Ekspedisi Patriot tidak hanya menghasilkan penelitian ilmiah, tetapi juga melahirkan rekomendasi yang mampu menjadi jembatan antara kebutuhan masyarakat di kawasan transmigrasi dengan kebijakan pembangunan pemerintah. (AAF)
Sumber: Tim Kementerian Transmigrasi
( redaksi sukapurwanews.com yadi )







