SUKAPURWA NEWS
Purwakarta – Di tengah tantangan perkembangan zaman yang menuntut generasi muda memiliki karakter kuat, kemampuan berpikir kritis, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial, Perguruan Pencak Silat Lugay Kancana mengambil langkah nyata melalui penyelenggaraan Latihan Dasar Kepemimpinan Pesilat (LDKP). Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai Minggu, 2 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB, diikuti oleh 25 pesilat muda tingkat SMP dari berbagai ranting pembinaan.
LDKP bukan sekadar agenda pelatihan organisasi ataupun kegiatan rutin perguruan. Program ini dirancang sebagai proses pembentukan karakter yang memadukan nilai-nilai luhur pencak silat dengan pendidikan kepemimpinan, etika, komunikasi, tanggung jawab, serta penguatan mental remaja agar mampu menghadapi tantangan kehidupan.
Selama tiga hari pelaksanaan, para peserta tidak hanya menerima materi di dalam ruangan, tetapi juga mengikuti berbagai sesi praktik yang mendorong mereka untuk berpikir, berdiskusi, mengambil keputusan, memimpin kelompok, dan menyelesaikan berbagai persoalan melalui kerja sama. Setiap aktivitas dirancang untuk membangun keberanian, rasa tanggung jawab, disiplin, serta kemampuan berinteraksi dengan orang lain.
Salah satu fokus utama LDKP adalah membantu peserta mengenal dirinya sendiri. Melalui berbagai metode pembelajaran, peserta diajak memahami karakter, potensi, kelebihan, sekaligus menyadari kekurangan yang harus diperbaiki. Pemahaman tersebut menjadi fondasi penting agar setiap pesilat mampu tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, rendah hati, serta memiliki arah hidup yang jelas.
Selain penguatan mental, penyelenggara memberikan perhatian besar terhadap pembentukan akhlak. Dalam setiap materi selalu ditekankan bahwa keberhasilan seorang pesilat bukan hanya ditentukan oleh prestasi di gelanggang, tetapi juga oleh sikapnya kepada keluarga, guru, dan masyarakat. Nilai menghormati, menyayangi, serta berbakti kepada kedua orang tua menjadi bagian penting yang terus ditanamkan selama pelatihan.
Peserta juga memperoleh pembekalan public speaking, sehingga mereka terbiasa menyampaikan pendapat secara santun, berani tampil di depan umum, serta mampu menjadi pendengar yang baik. Keterampilan ini dipadukan dengan latihan diskusi dan musyawarah agar peserta terbiasa mencari solusi melalui dialog, bukan melalui emosi ataupun kekerasan.
Materi organisasi juga diberikan sebagai bekal dasar bagi para peserta untuk memahami arti kepemimpinan, kerja sama tim, pembagian tugas, disiplin waktu, hingga kemampuan mengelola sebuah kegiatan. Dengan demikian, para pesilat diharapkan mampu menjadi pelopor kegiatan positif di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggalnya.
Presiden Asosiasi Pesilat Nusantara (APN) dalam sambutannya memberikan apresiasi atas terselenggaranya program tersebut. Menurutnya, pembinaan karakter harus menjadi prioritas utama dalam setiap perguruan pencak silat.
"Pencak silat adalah warisan budaya bangsa yang mengajarkan keberanian, kesantunan, persaudaraan, dan tanggung jawab. Program seperti LDKP merupakan investasi penting dalam mencetak generasi muda yang berintegritas, mampu memimpin, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat. Kami berharap kegiatan ini terus berkembang dan menjadi contoh bagi perguruan lainnya."
Ketua Perguruan Pencak Silat Lugay Kancana, Bapak Slamet, menilai LDKP menjadi bagian penting dalam proses kaderisasi perguruan. Menurutnya, seorang pesilat harus memiliki keseimbangan antara kemampuan teknik dan kualitas karakter.
"Kami tidak hanya ingin melahirkan atlet yang berprestasi, tetapi juga generasi yang memiliki sopan santun, disiplin, rasa tanggung jawab, dan mampu menjadi teladan bagi teman-temannya. Karakter adalah fondasi utama sebelum seseorang menjadi pemimpin."
Sementara itu, Guru Besar Perguruan Pencak Silat Lugay Kancana yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Pesilat Nusantara, Kang Dodi Suhada Akum, menjelaskan bahwa LDKP merupakan bagian dari visi besar perguruan dalam membangun sumber daya manusia yang unggul melalui pendidikan pencak silat.
Menurutnya, ukuran keberhasilan kegiatan bukanlah seberapa banyak materi yang diberikan, melainkan perubahan perilaku peserta setelah kembali ke rumah dan sekolah.
"Kami ingin orang tua menjadi pihak pertama yang merasakan manfaat dari LDKP. Ketika anak mulai terbiasa mengucapkan salam, menghormati ayah dan ibu, membantu pekerjaan rumah, lebih disiplin belajar, berani berbicara dengan sopan, mampu mengendalikan emosi, serta meninggalkan kebiasaan yang kurang baik, di situlah tujuan pendidikan karakter mulai tercapai. Itulah makna seorang pesilat sejati."
Ia menambahkan bahwa seorang pesilat harus menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi lingkungannya. Keberanian yang diajarkan dalam pencak silat bukan untuk menunjukkan kekuatan, melainkan keberanian menjaga kebenaran, menolong sesama, dan bertanggung jawab atas setiap tindakan.
Antusiasme peserta mendapat apresiasi dari para orang tua. Mereka mengaku melihat perubahan positif pada anak-anak selama mengikuti kegiatan. Beberapa orang tua menyampaikan bahwa anak menjadi lebih percaya diri, lebih terbuka dalam berkomunikasi, semakin menghormati keluarga, serta menunjukkan semangat baru dalam belajar dan berlatih.
Bagi Perguruan Pencak Silat Lugay Kancana, LDKP bukanlah akhir dari sebuah kegiatan, melainkan awal dari perjalanan panjang membentuk generasi pesilat yang berkarakter. Perguruan berharap setiap peserta mampu menjadi teladan di sekolah, di tengah keluarga, maupun di lingkungan masyarakat, sehingga nilai-nilai luhur pencak silat terus hidup sebagai budaya yang mendidik dan mempersatukan.
Melalui program ini, Lugay Kancana menegaskan bahwa pencak silat tidak hanya mencetak atlet ataupun pendekar, tetapi juga melahirkan generasi muda yang berani, berakhlak mulia, berbakti kepada orang tua, mampu memimpin, dan siap memberikan kontribusi nyata bagi bangsa dan negara.
Red:Sukapurwa News



