BEKASI — Larizka Event Organizer bersama Asosiasi Pesilat Nusantara (APN) menggelar Kejuaraan Pencak Silat Tradisi dalam rangkaian Gebyar Budaya di Transpark Mall Bekasi, Minggu, 18 Oktober 2026. Kegiatan ini diikuti sekitar 250 pesilat dari berbagai perguruan di Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten, mulai dari kategori usia dini hingga dewasa.
Para peserta menampilkan kemampuan terbaik dalam kategori seni tunggal, ganda berpasangan, dan regu. Beragam jurus serta permainan senjata tradisional menjadi bagian dari pertunjukan yang memperlihatkan kekayaan teknik dan nilai seni bela diri warisan budaya Nusantara.
Kejuaraan ini tidak hanya menjadi ajang perebutan prestasi, tetapi juga sarana memperkuat pelestarian pencak silat tradisi sekaligus membangun keberanian, kedisiplinan, dan karakter generasi muda.
Atlet Pemula Lugay Kancana Tunjukkan Performa Membanggakan
Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah Perguruan Pencak Silat Lugay Kancana dari Purwakarta. Perguruan ini menurunkan 30 atlet usia dini hingga praremaja, yang sebagian besar merupakan pesilat pemula dari kegiatan ekstrakurikuler sekolah.
Pembinaan tersebut melibatkan peserta didik dari SDN Ekologi Kahuripan Padjadjaran, SDN Purwamekar, dan SMPN 2 Purwakarta.
Dalam keterangannya kepada awak media, Kang Riply selaku pelatih menjelaskan bahwa persiapan para atlet berlangsung kurang dari satu bulan. Meski waktu latihan relatif singkat, para peserta mampu menunjukkan kemampuan yang membanggakan berkat latihan intensif, semangat berlatih, serta dukungan orang tua.
Keikutsertaan ini juga menjadi sarana menguji mental atlet pemula agar terbiasa menghadapi suasana pertandingan, mengendalikan rasa gugup, dan membangun kepercayaan diri saat tampil di gelanggang.
Ketua Perguruan Lugay Kancana, Slamet Kusaeni, mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian tersebut.
“Alhamdulillah, Lugay Kancana berhasil meraih Juara Umum II dengan membawa 30 atlet usia dini hingga praremaja. Rata-rata mereka masih pemula. Ini menjadi kebanggaan bagi kami sekaligus motivasi untuk terus meningkatkan pembinaan,” ungkapnya.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kegigihan para atlet, latihan yang konsisten, peran pelatih, serta dukungan orang tua yang terus mendampingi anak-anak dalam proses pembinaan.
Ibu Eka: Kejuaraan Menjadi Wadah Pelestarian Budaya
Ibu Eka selaku perwakilan Larizka Event Organizer menjadi salah satu narasumber yang diharapkan dapat menjelaskan tujuan penyelenggaraan kejuaraan di pusat perbelanjaan Transpark Mall Bekasi.
Penyelenggaraan ini memberikan ruang bagi berbagai perguruan untuk menampilkan seni pencak silat tradisi sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat yang lebih luas.
Melalui kegiatan tersebut, pencak silat diharapkan tidak hanya dikenal sebagai olahraga bela diri, tetapi juga sebagai warisan budaya yang mengandung nilai seni, disiplin, etika, dan karakter.
Pernyataan langsung Ibu Eka mengenai tujuan dan evaluasi penyelenggaraan perlu dilengkapi berdasarkan hasil wawancara.
Kang Yudi: Sistem Penilaian Digital Mendukung Transparansi Pertandingan
Salah satu aspek penting dalam pelaksanaan kejuaraan ini adalah penerapan sistem penilaian digital yang menjadi bagian dari upaya modernisasi penyelenggaraan pertandingan pencak silat tradisi.
Kang Yudi selaku Ketua Juri menjadi narasumber penting terkait pelaksanaan penilaian dan pengawasan pertandingan. Penggunaan sistem digital dapat membantu proses pencatatan nilai, pengolahan hasil, serta rekapitulasi penilaian secara lebih terstruktur, sesuai dengan fitur dan mekanisme sistem yang digunakan panitia.
Penerapan teknologi dalam penjurian juga menjadi langkah menuju penyelenggaraan kompetisi yang lebih efektif dan akuntabel. Meski demikian, kualitas penilaian tetap bergantung pada kompetensi juri, konsistensi penerapan aturan, dan objektivitas dalam menilai penampilan setiap peserta.
Dalam pencak silat tradisi, aspek teknik, ketepatan gerak, wiraga, wirama, wirasa, kekompakan, serta penghayatan menjadi bagian penting yang harus diperhatikan sesuai pedoman penilaian masing-masing kategori.
Sinergi antara kemampuan dewan juri dan pemanfaatan teknologi diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan peserta, pelatih, dan perguruan terhadap proses pertandingan.
Penjelasan mengenai perangkat yang digunakan, mekanisme input nilai, dan manfaat yang dirasakan selama pertandingan perlu dikonfirmasi langsung kepada Kang Yudi agar sesuai dengan fakta pelaksanaan.
Kang Dodi: APN Dorong Pembinaan, Regenerasi, dan Profesionalisme
Kang Dodi selaku pengurus Asosiasi Pesilat Nusantara (APN) turut menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut. Dari perspektif pembinaan organisasi, kejuaraan pencak silat tradisi merupakan bagian penting dalam mempertemukan perguruan, memperkuat silaturahmi, dan mendorong regenerasi pesilat.
Menurut arah pembinaan yang dikembangkan APN, pencak silat tidak semata-mata berorientasi pada kemenangan, tetapi juga pada pembentukan karakter, sportivitas, kepemimpinan, serta penghormatan terhadap nilai-nilai budaya.
Penyelenggaraan kejuaraan juga menjadi kesempatan bagi perguruan untuk mengevaluasi hasil latihan, mengukur kemampuan atlet, dan mempersiapkan generasi penerus agar mampu berkompetisi secara sehat.
Modernisasi penyelenggaraan, termasuk pemanfaatan sistem penilaian digital apabila diterapkan secara tepat, dapat menjadi salah satu unsur pendukung profesionalisme kompetisi tanpa meninggalkan nilai luhur pencak silat tradisi.
Pernyataan langsung Kang Dodi perlu disesuaikan dengan hasil wawancara yang sebenarnya.
Prestasi, Teknologi, dan Pelestarian Budaya Berjalan Beriringan
Kejuaraan Pencak Silat Tradisi di Transpark Mall Bekasi menjadi momentum bagi para pesilat untuk menunjukkan kemampuan sekaligus memperoleh pengalaman bertanding di tingkat lintas daerah.
Bagi Lugay Kancana, raihan Juara Umum II dengan mayoritas atlet pemula menjadi capaian yang patut disyukuri dan dijadikan bahan evaluasi untuk pembinaan berikutnya.
Sementara itu, pemanfaatan sistem penilaian digital menjadi salah satu hal yang layak mendapat perhatian dalam perkembangan tata kelola pertandingan, seiring dengan kebutuhan terhadap proses penilaian yang tertib, efisien, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Melalui kolaborasi penyelenggara, APN, dewan juri, perguruan, pelatih, dan orang tua, pencak silat tradisi diharapkan terus berkembang sebagai sarana prestasi, pendidikan karakter, dan pelestarian budaya bangsa.
SUKAPURWA NEWS — Mengabarkan Prestasi, Merawat Tradisi, Menguatkan Generasi.







