-->
  • Jelajahi

    Copyright © Sukapurwa News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Blogger Templates

    Ketika Hutan Menyusut, Kita Kehilangan Lebih dari Sekadar Pepohonan

    30 November 2025, November 30, 2025 WIB Last Updated 2025-11-30T13:54:42Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

     


    Oleh: Redaksi Sukapurwanews 30 November 2025


    Indonesia kembali tercatat sebagai negara dengan kehilangan hutan tropis terbesar kedua di dunia. 10,5 juta hektare hutan hilang angka yang bukan sekadar statistik, melainkan peringatan keras bahwa ada masalah struktural yang belum selesai: cara kita memperlakukan alam hanya sebagai sumber ekonomi, bukan ekosistem kehidupan.


    Dalam pembicaraan formal, kita sering mendengar istilah pembangunan berkelanjutan; sebuah kalimat indah yang sayangnya belum benar-benar hidup dalam kebijakan. Di ruang rapat pemerintah, istilah itu tampak seperti slogan. Di lapangan, hutan tetap ditebang, sungai menghitam, dan satwa liar terpaksa berjalan ke ladang manusia demi bertahan hidup.


    Yang menyedihkan, hilangnya 10,5 juta hektare hutan bukan terjadi dalam semalam. Ia hilang secara bertahap diam-diam, legal dan ilegal, antara izin korporasi dan pembiaran sistematis.


    Pertanyaannya sederhana: siapa yang diuntungkan dari hilangnya hutan?

    Jawabannya jelas bukan masyarakat adat, bukan publik, dan bukan generasi yang akan lahir setelah kita. Yang menikmati hasilnya hanyalah sebagian kecil mereka yang memegang akses dan kekuasaan ekonomi.


    Sementara itu, yang menanggung akibatnya adalah bangsa secara keseluruhan: banjir yang kini menjadi agenda tahunan, polusi udara, krisis air, hingga bencana kebakaran hutan yang berulang seperti ritual.


    Ironisnya, kita sering bangga menyebut Indonesia sebagai negara megabiodiversitas. Namun kebanggaan itu berubah menjadi paradoks ketika habitat makhluk hidup justru dilucuti dengan dalih pertumbuhan ekonomi.


    Ekonomi yang berjalan atas pengorbanan ekologi bukan kemajuan itu utang lingkungan yang kelak akan jatuh tempo dengan bunga yang tak sanggup kita bayar.


    Sudah saatnya kita berhenti memandang hutan sebagai ruang kosong yang harus dimanfaatkan. Hutan adalah sistem penyangga hidup. Ia menjaga kualitas udara, menyimpan karbon, menahan erosi, mengatur iklim lokal, dan menjadi rumah bagi kehidupan yang tidak terwakili dalam sidang kebijakan: orangutan, badak, elang, tumbuhan langka, hingga mikroorganisme yang bahkan belum sempat diteliti.


    Krisis kehilangan hutan ini harus menjadi refleksi nasional.


    Jika kita gagal menjaga hutan, maka kita juga gagal menjaga masa depan. Karena di balik pepohonan yang tumbang, ada satu hal yang diam-diam ikut hilang:


    Kemampuan kita untuk bertahan hidup sebagai bangsa ekologis.


    Kini keputusan ada di tangan kita: melanjutkan pola lama hingga hutan hanya menjadi nama dalam lembar sejarah, atau berani berubah demi bumi yang masih mungkin diselamatkan.



    Referensi dan Sumber Data Resmi


    Informasi mengenai kehilangan hutan tropis dan data deforestasi ini dapat diverifikasi melalui sumber-sumber kredibel berikut:


    Global Forest Watch (GFW)


    Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia


    World Bank (Bank Dunia)


    Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO)



    Data dari lembaga-lembaga tersebut menunjukkan bahwa tren deforestasi Indonesia merupakan fenomena serius yang membutuhkan perhatian kebijakan, penegakan hukum, dan perubahan paradigma nasional terkait keberlanjutan lingkungan.




    Redaksi : Sukapurwanews  

    Sumber : Kiriman Tim / Dok. Redaksi

    Editor Web : Ikhsan Adzkar

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini