Purwakarta – Pasca berakhirnya Pasanggiri Jaipong Panggung Seni Atharrazka Tingkat Jawa Barat yang digelar pada 26 hingga 28 Juni 2026 di Panggung Seni Atharrazka, Situ Cigangsa, Kecamatan Campaka, persoalan baru justru mencuat. Hingga saat ini, honorarium dan biaya operasional kegiatan yang menjadi hak sejumlah pihak dikabarkan belum diselesaikan.
Pihak yang belum menerima pembayaran secara penuh di antaranya Tim Event Organizer (EO), dewan juri, penyedia sound system, katering, serta dekorasi panggung. Kondisi tersebut menimbulkan kekecewaan karena kegiatan dipersiapkan selama lebih dari satu bulan dengan melibatkan banyak pihak.
Berdasarkan keterangan dari pihak pelaksana, sejak kegiatan berakhir telah beberapa kali dilakukan komunikasi dengan pengelola Panggung Seni Atharrazka maupun unsur wilayah yang ikut terlibat dalam persiapan kegiatan. Namun hingga kini penyelesaian pembayaran disebut belum menemukan titik terang.
Menurut informasi yang diperoleh, sempat ada komitmen bahwa kekurangan biaya penyelenggaraan akan diselesaikan pada 12 Juli 2026, bertepatan dengan kegiatan jalan santai yang dilaksanakan oleh unsur Karang Taruna tingkat kecamatan dan Desa Campaka. Pertemuan tersebut juga disebut dihadiri oleh Camat Campaka sebagai saksi. Namun, menurut pihak pelaksana, realisasi pembayaran tidak berjalan sesuai dengan kesepakatan yang disampaikan sebelumnya
Ketua Dewan Juri, Kang Yudi, menyayangkan kondisi tersebut. Ia mengungkapkan bahwa para juri telah melaksanakan tugas secara profesional sejak awal hingga akhir perlombaan. Namun hingga saat ini, para juri baru menerima pembayaran sebesar Rp500.000, sementara sisa honor yang dijanjikan belum dibayarkan.
"Kami menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab demi suksesnya kegiatan. Tentu kami berharap hak seluruh petugas dapat segera diselesaikan sesuai kesepakatan," ujarnya.
Kang Yudi juga menyampaikan bahwa saat melakukan komunikasi dengan pengelola Panggung Seni Atharrazka, Pak Sugih, pembahasan mengenai kekurangan pembiayaan belum menghasilkan solusi yang pasti. Menurutnya, pengelola sempat menawarkan barang berupa satu unit sound portable dan lampu LED sebagai bentuk jaminan kepada pihak EO, namun usulan tersebut belum menjadi penyelesaian pembayaran yang disepakati.
Sementara itu, Kang Dodi, selaku pelaksana kegiatan dari Lugay Digital Management, menjelaskan bahwa penyelenggaraan Pasanggiri Jaipong bermula dari permintaan pengelola Panggung Seni Atharrazka.
"Kurang lebih satu bulan sebelum pelaksanaan, Pak Sugih menghubungi kami dan menyampaikan keinginannya untuk meramaikan Panggung Seni Atharrazka melalui kegiatan Pasanggiri Jaipong. Saat itu saya menanyakan kesiapan anggaran pribadi yang dimiliki. Beliau menyampaikan memiliki dana sekitar Rp10 juta dan siap mendukung pelaksanaan kegiatan," ujar Kang Dodi.
Berbekal komitmen tersebut, lanjut Kang Dodi, tim EO kemudian bekerja penuh menyiapkan seluruh kebutuhan acara, mulai dari administrasi kepesertaan, penyusunan petunjuk pelaksanaan, koordinasi dengan pemerintah daerah, hingga pengelolaan teknis pelaksanaan.
Ia menjelaskan bahwa salah satu fokus utama adalah melakukan koordinasi dengan Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Purwakarta untuk memperoleh dukungan terhadap kegiatan, termasuk penggunaan tanda tangan pejabat dinas pada sertifikat peserta. Sertifikat tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu dokumen pendukung bagi peserta yang akan mengikuti proses kurasi maupun jalur prestasi di bidang seni.
Selain itu, penyelenggaraan tahun ini juga menggunakan sistem digital dalam administrasi dan penilaian perlombaan. Kang Dodi sendiri turut bertugas sebagai juri bidang teknologi informasi yang mengelola sistem digital tersebut.
"Kami ingin menghadirkan penyelenggaraan yang lebih profesional, transparan, dan modern. Semua administrasi, data peserta, hingga sistem penilaian dibuat secara digital agar proses berlangsung lebih efektif," jelasnya.
Menurut Kang Dodi, keberhasilan penyelenggaraan kegiatan tersebut tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk unsur LMDH, Karang Taruna Kecamatan Campaka, Karang Taruna Desa Campaka, pemerintah desa, relawan, panitia, dewan juri, serta masyarakat yang ikut membantu selama pelaksanaan.
Namun ia berharap persoalan pembayaran ini dapat segera diselesaikan melalui komunikasi dan tanggung jawab bersama.
"Kami tidak ingin persoalan ini merusak semangat pelestarian seni budaya. Yang kami harapkan sederhana, yaitu adanya penyelesaian terhadap hak-hak seluruh pihak yang telah bekerja sejak tahap persiapan hingga kegiatan selesai. Ke depan, kami berharap setiap penyelenggaraan event budaya memiliki komitmen pembiayaan yang jelas agar tidak merugikan para pelaksana maupun para pendukung kegiatan," tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola Panggung Seni Atharrazka belum memberikan keterangan resmi terkait perkembangan penyelesaian pembayaran tersebut. Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi dari seluruh pihak terkait agar pemberitaan tetap berimbang sesuai kaidah jurnalistik.
Red:Sukapurwa News


