-->
  • Jelajahi

    Copyright © Sukapurwa News
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Blogger Templates

    Iklan

    Idulfitri Muhammadiyah di Purwakarta: Tradisi, Perbedaan, dan Jejak Sejarah yang Terus Hidup

    20 Maret 2026, Maret 20, 2026 WIB Last Updated 2026-03-20T00:25:56Z


    PURWAKARTA – Pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 Hijriah oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Purwakarta berlangsung serentak di sejumlah titik di Purwakarta, menghadirkan suasana khidmat sekaligus menjadi cerminan dinamika panjang dalam penentuan hari besar Islam di Indonesia.

    Di bawah koordinasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, pelaksanaan ini bukan sekadar ibadah rutin tahunan, melainkan bagian dari konsistensi Muhammadiyah dalam menggunakan metode hisab (perhitungan astronomi) untuk menentukan awal bulan Hijriah, termasuk 1 Syawal.




    Jejak Sejarah: Awal Perbedaan yang Terus Berjalan

    Perbedaan penetapan Idulfitri di Indonesia bukan fenomena baru. Sejak awal abad ke-20, tepatnya sejak berdirinya Muhammadiyah pada 1912 oleh Ahmad Dahlan, pendekatan ilmiah mulai diperkenalkan dalam menentukan kalender Islam.

    Muhammadiyah menggunakan hisab hakiki wujudul hilal, yaitu metode perhitungan matematis dan astronomis untuk memastikan posisi bulan. Sementara itu, organisasi besar lain seperti Nahdlatul Ulama cenderung menggunakan metode rukyatul hilal (pengamatan langsung bulan sabit).

    Perbedaan metode ini kerap menghasilkan perbedaan tanggal Idulfitri, meski tujuannya sama: memastikan keabsahan waktu ibadah sesuai syariat.


    Mengapa Bisa Berbeda? Ini Penjelasannya

    Perbedaan ini berakar pada tiga hal utama:

    1. Metode Penentuan

      • Muhammadiyah: hisab (perhitungan astronomi, bisa ditentukan jauh hari)

      • NU: rukyat (observasi langsung, menunggu hasil pengamatan)

    2. Kriteria Hilal

      • Muhammadiyah: cukup bulan sudah “wujud” (di atas ufuk)

      • Pemerintah & NU: ada standar ketinggian tertentu agar hilal bisa terlihat

    3. Pendekatan Fikih

      • Perbedaan interpretasi terhadap dalil tentang melihat bulan (rukyat) vs memahami secara ilmiah (hisab)

    Akibatnya, dalam kondisi tertentu, umat Islam di Indonesia bisa merayakan Idulfitri pada hari yang berbeda—sebuah realitas yang sudah berlangsung puluhan tahun.




    Pelaksanaan di Purwakarta: Khidmat di Banyak Titik

    Di Purwakarta, Salat Idulfitri Muhammadiyah digelar di beberapa lokasi strategis:

    • Halaman Kantor BNI Cabang Purwakarta

    • Lapangan Kampus YASRI

    • Kawasan Cipaisan, Jl. Jenderal Ahmad Yani

    • Lapangan RSU Asri

    Di titik utama, salat dipimpin oleh Afza Masyhadi, alumni Universitas Islam Madinah, yang juga bertindak sebagai khatib.

    Dalam khutbahnya, ia menegaskan bahwa Idulfitri bukan akhir, melainkan awal menjaga nilai Ramadan: ketakwaan, solidaritas, dan kepedulian sosial.

    Sejumlah imam lain turut bertugas di lokasi berbeda, di antaranya:

    • M. Nainunis Syamsun El-Fatta

    • M. Fauzi Rahman Ramdhani

    • Azi Ahmad Tajudin

    Koordinasi lapangan dipimpin oleh Suratijo.


    Antusiasme Jamaah: Perbedaan Tak Mengurangi Kebersamaan

    Sejak pagi, ribuan jamaah memadati setiap titik. Meski terdapat perbedaan hari dengan sebagian umat Islam lainnya, suasana tetap berlangsung damai dan penuh toleransi.

    Fenomena ini justru menunjukkan kedewasaan umat dalam menyikapi perbedaan—bahwa keberagaman metode tidak menghapus esensi kebersamaan.


    Penutup: Lebaran dan Makna Persatuan

    Pelaksanaan Idulfitri Muhammadiyah di Purwakarta menjadi gambaran nyata bahwa perbedaan bukan sumber perpecahan, melainkan bagian dari khazanah pemikiran Islam.

    Di tengah dinamika tersebut, semangat yang dibawa tetap sama: kembali ke fitrah, memperkuat iman, dan menjaga persaudaraan di tengah masyarakat.

    Kordinator Panitia Bp, Suratijo, penyelenggara Pimpinan Daerah Muhammadiyah Purwakarta, di Halaman BNI Cab, Purwakarta


    Redaksi Sukapurwanews

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    NamaLabel

    +