PURWAKARTA 23/04/26— Peristiwa kecelakaan yang dialami seorang siswa taman kanak-kanak berinisial F atau akrab disapa Koko di Kabupaten Purwakarta kini telah menemukan penyelesaian. Pihak sekolah bersama keluarga korban sepakat menempuh jalur musyawarah dan menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan.
Kesepakatan itu tercapai setelah sekolah menyatakan komitmen penuh untuk bertanggung jawab atas seluruh kebutuhan korban, termasuk penanganan medis hingga masa pemulihan.
Insiden tersebut terjadi pada Rabu, 22 April 2026, saat waktu istirahat berlangsung. Saat itu, korban sedang berada di sekitar area bermain dan duduk di dekat ayunan. Nahas, korban terkena benturan dari wahana komidi putar yang sedang dimainkan dengan kecepatan tinggi oleh siswa lainnya.
Peristiwa ini sempat menimbulkan kekhawatiran dari pihak keluarga, terutama menyangkut pengawasan terhadap anak-anak ketika jam bermain di lingkungan sekolah.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Kepala Bidang PAUD dan PNF Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta, Nurdhania Rahayu, S.H., bersama jajaran pengelola sekolah, segera mendatangi rumah sakit tempat korban menjalani perawatan.
Kunjungan itu dilakukan sebagai bentuk perhatian langsung kepada korban sekaligus untuk memastikan proses pengobatan berjalan maksimal. Selain itu, pertemuan tersebut juga menjadi ruang komunikasi antara pihak sekolah dan keluarga agar persoalan dapat diselesaikan dengan baik.
Pihak sekolah melalui Kepala TK, Ibu Ela, menyampaikan permohonan maaf atas musibah yang menimpa peserta didiknya. Ia menegaskan bahwa keselamatan anak merupakan hal utama dan kejadian tersebut menjadi evaluasi serius bagi lembaga pendidikan.
Sebagai bentuk tanggung jawab, sekolah menyatakan siap menanggung seluruh biaya pengobatan korban, mulai dari tindakan medis, masa pemulihan, hingga pemberian dukungan moril kepada keluarga. Sekolah juga berkomitmen meningkatkan sistem pengawasan serta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kelayakan sarana bermain anak.
Sementara itu, keluarga korban menerima penjelasan kronologi kejadian dan memandang peristiwa tersebut sebagai musibah yang tidak diharapkan. Reaksi emosional yang muncul sebelumnya disebut sebagai bentuk kepanikan orang tua saat mengetahui kondisi anaknya.
Dengan tercapainya kesepahaman antara kedua belah pihak, diharapkan masyarakat tidak lagi menimbulkan spekulasi yang dapat memperkeruh suasana. Saat ini, perhatian utama diarahkan pada kesembuhan F agar dapat kembali belajar dan bermain dengan aman.
Redaksi Sukapurwanews.com (Yd)

